WELCOME

ARE YOU READY FOR CREATIVE?.

KARYADICTIVE PROJECT

CALL US +62 896 7542 3636.

KARYADICTIVE PROJECT

Open crowdfunding until January 2018.

CREATIVE START HERE, GUYS!

Come join us with our project.

KARYADICTIVE PROJECTe

Open crowdfunding until January 2018.

Wednesday, April 5, 2017

Contoh CV Untuk Melamar Kerja

CURRICULUM VITAE
DATA PRIBADI
Nama                                       : Gendar
Tempat tanggal lahir            : Sragen, 1 Juli 2000
Alamat                                    : Blok Poncong RT/RW 13/07 Desa Gadung Guli, Kec. Kawi Kab. Sragen 24310 – Jawa Tengah
No. Hp                                    : 0896-7542-3636
E-mail                                     : gendarchayankbunda@yahoo.com


TUJUAN BERKARIR     

Saya miskin, saya ngga punya apa-apa, yang saya punya hanya cinta dan kasih sayang. Saya akan berusaha sebaik mungkin.
Sepupu saya menderita penyakit kanker dan tumor, dan kami tidak memiliki biaya berobat.
Saya ingin mengembangkan kualitas diri saya di dunia kerja dan membantu berkontribusi lebih terhadap perkembangan perusahaan.
Sebagai tulang punggung keluarga, saya ingin agar selalu bekerja lebih keras untuk memeberikan yang terbaik untuk keluarga dan perusahaan tempat saya bekerja.

RIWAYAT PENDIDIKAN

Juli 2001 s/d Juni 2007 – SD Negeri Sragen II – Manajemen Ekonomi
Juli 2007 s/d Mei 2010 – MTs Negeri 4 Sragen – Pendidikan Agama Islam
Juli 2010 s/d Mei 2013 – SMK Negeri 1 Sragen – Teknik Sulap

PENGALAMAN KERJA

1 Agustus 2013 s/d 30 April 2015
PT. SEJAHTERA BAHAGIA, Sragen
Maintenance Service

Tanggung jawab:
  • Perbaikan dan perawatan mesin
  • Pengecekan kondisi black room
  • Penyemprotan parfum green floor
  • Waxing
  • Bersih-bersih

1 Juni 2015 s/d 30 Juni 2016


CV. SIFICEVE EFSI, Merauke
Teknisi Mesin

Tanggung jawab:
  • Pengoperasian mesin produksi


PENGALAMAN ORGANISASI DAN PRESTASI

·         2009-2010            Anggota Klub memasak
·         2010                       Wakil Ketua demonstrasi sekolah
·         2010-2011            Ketua pemberontakan Karang Taruna
·         2011                       Juara 1 Lomba memasak air
·         2012                       Juara harapan 1 Lomba wudhu antar kelas
·         2012                       Pendamping juara harapan 3 tarian Tor-Tor sekabupaten
·         2012                       Pendampng model fashion show se-kecamatan
·         2012                       Pendamping pengantin pria saudara sepupu
·         2013                       Penonton bola terbaik sekelurahan
·         2014                       Penyanyi terbaik di lingkungan tetangga
·         2015                       Manager model foto botani
·         2016                       Juara 1 Lomba balap karung 17 Agustus antar komplek
·         2016                       Pemenang undian berhadiah ciki

KETERAMPILAN DAN SERTIFIKASI

Keterampilan komputer:
  • Menyalakan dan mematikan komputer/laptop
  • Mengedit foto dengan Photoshop
  • Menyulap DVD bekas menjadi pajangan rumah

Keterampilan mesin:
  • Mesin apa saja insyaallah bisa
  • Mesintai kamu apa adanya. *eaaaaaa*

Keterampilan Bahasa:
  • Bahasa Indonesia
  • Bahasa Jawa
  • Bahasa Sunda
  • Bahasa Madura
  • Bahasa Ukraina
  • Bahasa Ekuador


KOMPETENSI DIRI

  • Mampu bekerja di lingkungan yang berbahaya atau ekstrim
  • Dapat bekerja sambil kayang
  • Kreatif. Mampu merubah upil menjadi mahakarya
  • Disiplin
  • Berkontribusi dalam tim dengan cukup baik
  • Sangat suka bekerja sambil dengerin musik dangdut pantura

MINAT DAN HOBI

  • Membantu orang tua
  • Main layang-layang
  • Memancing belut listrik
  • Berburu buaya dan kobra
  • Membaca majalah BOBO
  • Mengadu telur ayam
File doc, Ms. Word klik disini

(/kay/end)

Tuesday, April 4, 2017

Sejarah Pulpen Harga 2,5 Juta Yang Biasanya Dijual Di Gramedia

   Ketika itu…, di musim hujan tahun 1998, suara gemercik hujan dan kilatan petir mengiringi suasana malam minggu yang kelam. Disuatu tempat di pinggiran kota, hiduplah seorang insinyur duda paruh baya bernama Sugimin, saat itu Pak Sugimin sedang desperate berat karena kecoa peliharaannya mati, tiba-tiba ia bergumam “Aduh…, hidup ngapain lagi ya?. Bikin pulpen aja ah yang harganya dua juta setengah.”


   TAMAT
   
   
   Penampakan Pulpen Harga 2,5 Juta (ilustrasi)
   


(/kay/end)

Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat

       Probably Mt. Papandayan will always be my “Little El-Capitan” extra four beauty-elements with endless beautiful scenery. #BOOM!


   Papandayan yang kadang dianggap remeh oleh beberapa pendaki, padahal kalo dingin yah sama ajah kaya gunung lainnya.., bahkan lebih dingin dari sikap dia ke kamu, *eh*

Papandayan yg kadang dibilang "ah jalurnya gampang, sambil kayang juga bisa" oleh beberapa orang, padahal kalo kesandung cangkang keong, atau salah pijak sampe cidera ankle itu tetep nyakitin juga 😂


   Papandayan yg kadang "disepelein" beberapa kaum dan umat, tapi kalo "diputerin" di hutan mati gak ketemu jalur balik karena semua pohonnya sama atau "diputerin" di tegal alun yah deg-deg ser mewek juga 😂


   Gunung akan selalu jadi gunung dengan segala misterinya..  Let's Respect it!

  Ket: Foto ini ceritanya lagi nunggu "Om Telolet Om" 😂🙈



(/kay/end)

Bio Saya

   Kenalin, gue Karyadi, orang-orang biasa manggil gue Kay. Gue lahir senin kliwon 21 tahun yang lalu. Ketika gue baru lahir, dokter memvonis gue memiliki riwayat penyakit Schizophernia (kurang lebih tulisannya kaya gitu), dan itu berdampak pada kejiwaan gue yang sangat terpuruk dan fisik gue yang lemah. Tapi gue bertahan, gue survive!, sampai sekarang. Dan seperti yang kalian lihat, gue tumbuh seperti layaknya orang sehat pada umumnya, ya meskipun cintaku padanya tak pernah tumbuh subur *eeaa*. Meskipun begitu, keluarga gue sih emang sepakat kalo gue ganteng . Kalian bisa dengan mudah menemukan aura kegantengan dari dalam diri gue. Tapi kalian tidak akan mudah menemukan pendamping hidup kalian.
   Pada umur 10 tahun, gue ikut lomba 17 Agustus-an untuk pertama kalinya dalam hidup gue, dan gue menang!, itu pertama kalinya gue menjadi seorang pemenang!, seorang juara sejati!!!. Gue menang dalam lomba balap kelereng, karena..., kelerengnya tertelan. Kemudian gue mendapatkan hadiah, hadiahnya dikasih ke gue semua. Karena, mereka merasa iba.
   Gue terlahir dengan bakat yang tidak biasa, yaitu makan soto sambil parkur.
Di umur ke-17, gue lulus sekolah, gue pergi merantau ke Ibukota untuk mengadu domba nasib, mencari kitab suci dan darah suci. Hingga pada suatu hari, gue masuk angin, badan gue meriang, suhu tubuh gue dingin, lebih dingin dari sikap dia ke aku akhir-akhir ini. *eh. Sampai akhirnya gue pergi ke Apotek membeli obat.
Dan akhirnya alam semesta pun damai sentosa. 
(/kay/end)

Monday, April 3, 2017

Halo Papandayan

Sabtu, 20 Februari 2016

     Rapat antar pendaki dimulai. Jumlah total yang ikut sebanyak......... 3 biji. Tujuan pendakian kali ini adalah Gunung Papandayan di Garut, Jawa Barat.
     Siang hari ini seperti biasa cuaca panas walaupun masih musim penghujan, kami bertiga mengadakan pertemuan di negeri antah brantah buat ngebanyol masalah pembagian barang bawaan dan waktu pemberangkatan, rencana awal kami yaitu berangkat sekitar pukul 21.00 WIB dari Terminal Indramayu, tapi..., selalu ada rencana yang gagal, akhirnya setelah mengecek jadwal di terminal, pemberangkatan terakhir bus dari terminal Indramayu sekitar pukul 10 pagi. Mampus! Akhirnya kami sepakat untuk berangkat dari Cirebon di jam yang sama. Seperti biasa, selalu ada rencana yang gagal! Sampai jam 9 malam kami bertiga belum juga nyampe TKP, akhirnya pemberangkatan ditunda besok pagi ba’da subuh.


Gunung Papandayan (photo by: asliindonesia.net)

Minggu, 21 Februari 2016

    Pagi ini dingin banget, lebih dingin dari sikap dia ke aku akhir-akhir ini, *eh. Sorry kurang fokus nih. Gue berangkat dari rumah dengan mengendarai sepeda menuju tempat pertemuan di antah brantah, sambil nge-gendong kerir segede gaban, gue mengayuh sepeda dengan semangat ’45, keringat pagi muncul setetes demi setetes, dengan jarak sekitar 5 kilogram, eh maksud gue 5 kilometer. Gue bakal nyampe sekitar 15 menit.

Kita bertiga siap berangkat. Dari kiri ke nanan (Gue, Yogi, Eman)

     Pukul 06.00 WIB kita bertiga udah siap atau bahasa kerennya ‘’ready for check in”. Pemberangkatan pertama naik mobil elf menuju Cirebon dengan biaya Rp.10.000,- niatnya sih bayar Rp.8.000 aja, soalnya ngga ada mamang-mamang kondekturnya, tapi tetep aja pas turun dimintain ceban-an, duh!
     Sesampainya di Cirebon, sambil menunggu kedatangan bus tujuan Bandung, kita bertiga sarapan dulu di warung nasi jamblang yang ada di pinggir jalan. Buat kalian yang belum tau, nasi jamblang adalah nasi yang dibungkus pake daun (entah nama daunnya gue ngga tau), biasanya isi nasinya cuma seuprit, bisa dibilang ini Onigiri dari Jawa, bedanya kalo onigiri dibungkus sama nori (rumput laut), kalo nasi jamblang dibungkus sama daun entah apa namanya, makanya tiap makan di warung nasi jamblang, pasti ditanyain dulu sama yang jualan “nasinya berapa mas?”.
     Tepat pukul 7 pagi bus nongol, gue terkejut, gue lari, gue teriak, gue guling-guling di tengah jalan (eh, nggak gitu juga sih), tas kerir yang segede gaban itu gue taro di bagasi, kami bertiga masuk mobil lewat pintu kiri karena di pintu kanan cuma ada pintu supir. Gue masuk dengan gaya yang udah gue atur, kedua temen gue di pinggir kiri-kanan, gue di tengahnya, mirip kaya power ranger di TV, cool abisss!
     Perkiraan estiimasi waktu perjalanan sekitar 3-4 jam dengan biaya Rp.40.000,- tapi semua itu hanyalah mimpi, karena lama perjalanan sesungguhnya sekitar 6 jam (udah termasuk macet) dengan ongkos Rp.55.000,- (ada AC-nya, ngga ada toiletnya). Begitu mem-BT-kan-nya, dari dalem mobil gue cuma bisa duduk sambil ngeliatin keluar jendela, ngeliat kendaraan lalu-lalang, maenan hempon, ngupil, maenin kursi mobil, kadang maenin perasaan orang lain.
     Matahari udah ada diatas, waktu masuk jam 13.00 WIB, kami tiba di Terminal Cicaheum Bandung, sebagai mahluk Tuhan yang berusaha taat beragama, kami nyari musholla dulu buat sholat dzuhur, sekalian makan siang. Cuma butuh waktu 25 menit untuk sholat+makan siang. Takut kesorean, akhirnya kita langsung capcus nyari mobil elf jurusan Garut, mobil udah nunggu di seberang jalan, mobil elf yang kita naiki warnanya merah kucel bulukan, agak reot, setelah jalan sejam lebih, gue mikir, ternyata Garut ngga sedeket yang gue pikir, ongkosnya aja Rp.35.000,- (Persis ongkos bus kombayana dari Indramayu ke Jakarta). Memasuki wilayah Garut, hujan turun sangat deras, mobil yang kita naiki bocor di beberapa sudut, airpun menetes, air mata juga menetes. Lah?
     Sekitar pukul 5 sore kita mendarat dalam keadaan gerimis unyu mengundang rindu di Cisurupan, gue seneng udah nyampe, tapi kesenengan itu hilang dalam sekejap mata pas ada tukang ojek bilang “Mau naek mas? Yuk dianter pake ojek aja”, gue mikir, jangan-jangan masih jauh nih, mamang-mamang ojek ngelanjutin “ayo dianter aja, masih jauh, 12 kilometer lagi, jalannya naek turun, ongkosnya tiga puluh lima rebu”. Mampus gue, gue gak bawa uang banyak, gue panik setengah hidup, akhirnya gue milih buat sholat ashar dulu di masjid, sekitar pukul setengah enam sore kita semua udah selesai sholat, mamang-mamang ojek masih nungguin kita bertiga, negosiasipun dimulai, negosiasi berakhir dengan tegang setelah petir menyambar awan, deal ongkosnya Rp.35.000,- patokan tarifnya emang segitu. Apa yang terjadi, terjadilah. Sepanjang perjalanan terlihat pemandangan deretan pegunungan yang suegggerrr!!!, ditambah gerimis rintik-rintik manja menambah suasana lebih dingin, jalan aspal sepanjang jalan dipenuhi lubang yang bikin deg-deg serrr! SUPER MENANTANG! Kamera terpasang di sepanjang rute ojek, mirip kayak di acara “Benteng Takeshi”
     Akhirnya kita nyampe di Basecamp setelah bergelut di jalanan cukup lama, sekitar 15 menit. Seperti pada umumnya, kita laporan dulu sama petugas setempat buat pendakian besok pagi, biaya perhari Rp.10.000,- dan biaya kebersihan perorang sebesar Rp.3.000,-. Berhubung rencana pendakian kita selama 2 hari (naik hari senin, turun hari berikutnya), jadi kita mesti bayar Rp.23.000. Sambil nunggu waktu maghrib, mamang-mamang ojek tadi berbaik hati ngasih tau beberapa hal, dan ngasih tau tempat nginep buat nanti malem. Tempat nginep kita malem ini di sebuah warung bilik bambu yang ada tempat istirahatnya, lumayan nyaman, cukup buat kita bertiga. Namanya mang Asep, pemilik warung yang mau berbaik hati ngasih tempat nginep buat kita bertiga, dibelakang warung mang Asep banyak saung buat sholat dan istirahat, gue lega kalo udah gini tuh, bisa dianalogikan kayak makan martabak anget pas hujan . Sementara nunggu adzan maghrib, kita bertiga jalan keliling warung di sepanjang basecamp buat nyari “barang bagus”.

Pemandangan di basecamp

     Suara adzan maghrib terdengar samar-samar, kamipun pergi untuk mengambil air wudhu, gue sih udah siap dengan setiap kemungkinan yang bakalan terjadi, termasuk air yang pastinya dingin banget. Nyesss...!
     Selesai sholat maghrib, kita bertiga ngobrol-ngobrol sambil nunggu waktu ‘isya, ditemani udara dingin yang menambah hati ini menjadi semakin dingin. Sambil ngobrol, gue nahan pipis, karena gue males kalo nyentuh air, rasanya kayak dihianati. Lah? Ya pokoknya males aja deh, soalnya nanggung banget, nanti aja abis sholat ‘isya.
     Sholat ‘isya udah kelar nih, kalian pasti tau apa yang bakal gue lakuin sekarang. Tepat sekali! Makan martabak. Ya nggak lah! Gue mau pipis woy! Pipis di semak-semak, yuhuuu!!! Naaah, abis pipis gini enaknya makan malem di warungnya mang Asep, temen gue mesen mi rebus, gue mesen nasi goreng, harganya Rp.10.000,- murah abis! Kenapa gue bilang murah?, ya karena... itu adalah harga ter-standar nasi goreng di pulau Jawa, beberapa mamang-mamang nasi goreng yang jualan di area wisata pendakian biasanya mematok harga Rp.15.000,- s/d Rp.20.000,- untuk 1 porsi nasi goreng dengan komposisi yang sama.




Penampakan gue lagi ngopay (ngopi) di warungnya Mang Asep

   Oke lanjut.
    By the way… Jam 10 malem kita bertiga baru mau tidur, makin malem makin dingin udaranya, waduh bisa tidur nggak ya?, soalnya gue ngga make jaket, cuma make baju lapangan doang. Istrinya mang Asep kayaknya kasian ngeliat gue tidur ngga make jaket atopun sleeping bag, dan akhirnya jeng-jeng...!!! Gue dikasih pinjem sleeping bag buat tidur malem ini, yeeey!!! Sepanjang malem gue bangun beberapa kali, mungkin karena udara yang masih dingin, sedingin freezer ice cream campina di Alfamart.

Senin, 22 Februari 2016

Pemandangan pagi dari basecamp

    Anjing menggonggong terdengar sangat jelas, fajar telah datang beberapa saat yang lalu, kamipun bangun, pagi ini disambut dengan air yang dingin menusuk sampai ke tulang (oke, ini lebay sih). Selesai sholat subuh kami sudah mulai packing, nunggu masuk jam 6 pagi, kami jalan-jalan keliling sekitaran basecamp, sebelum mulai pendakian, kita bertiga foto bareng mang Asep, bisa dibilang ini perpisahan. Pesen yang gue inget dari mang Asep adalah ketika mang Asep bilang “Awas hati-hati kalo ada dua orang bawa tas kerir terus ngajak bareng, jangan mau, suruh duluan aja, itu tuh jin yang biasanya nyasarin orang”, sejak itu bulu idung gue berdiri. Sepajang perjalanan hingga memasuki kawasan kawah Papandayan, gue ngga liat ada pendaki lain, sepi banget, mungkin gara-gara sekarang bukan hari libur.

Berfoto bersama Mang Asep
(by the way, Mang Asep yang kaos merah yaa…)




Foto di kawasan kawah Gunung Papandayan

     Ini pertama kalinya gue ke Papandayan, jadi pas masuk daerah kawah, gue kaya lagi ada di daerah lembah berbatu gitu, semuanya batu gitu, mirip di Mars. keren! *gue gak pernah ke Mars*, kalo keren kayak gini biasanya gue foto-foto, wajib nih! Cekrek! Cekrek! Ditengah perjalanan, kita bertemu sama beberapa orang yang daintaranya pendaki yang sama kaya kita, ada juga yang kayaknya orang pribumi yang udah biasa naik turun gunung, ada juga yang make motor trail gitu, sadis! Di sepanjang kawasan kawah, bau belerang kerasa banget, tadinya gue kira gue bakalan mati disini, ternyata enggak, gue sehat sampe sekarang. Pendaratan perdana kita di pos pertama, yaitu Guber Hut, disini tempatnya lumayan luas, datar, hijau banyak rumputnya, ada toilet, dan ada warungnya, sambil istirahat, kita ngambil beberapa gambar sekalian ngisi air buat nge-camp di puncak, disini juga ada beberapa pendaki yang juga lagi istirahat. Sebelum ngelanjutin perjalanan, kita dikasih beberapa petunjuk sama bapak-bapak yang kayaknya juga petugas, kita disuruh nunjukin bukti surat pendakian dari basecamp, setelah itu kita ngelanjutin perjalanan, seperti biasa, kita disuguhkan beberapa pemandangan yang keren, menurut gue, gunung papandayan ini termasuk gunung yang ngga ngebosenin, soalnya selain treknya yang ngga terlalu susah, banyak pemandangan yang macem-macem, kaya kawasan kawah di awal pendakian tadi, pemandangan sekitar yang hipster abis, ada juga sungai yang bikin adem, ada kawasan hutan, ada juga kawasan hutan mati yang katanya jadi tempat favorit “jepret-jepret” para pendaki.

Di Guber Hut nih…

Muara sungai di Gunung Papandayan

     Setelah jalan sekitar 4 jam lebih, akhirnya kita sampe di Pondok Saladah, pondok saladah ini bisa dibilang pos kedua, pos ini mirip kaya Guber Hut tadi, tapi lebih luas dan banyak pohonnya, disini banyak banget pendaki yang lagi nge-camp, karena disini memang tempat terakhir yang boleh dijadiin tempat camping, tempatnya bagus dan luas, banyak warungnya,deket sama hutan mati, deket sama puncak, dan yang lebih penting ada toilet dan mushollanya. Beberapa orang saling sapa dengan kita, terdengar canda tawa diantara mereka, terdengar pula rintihan rindu dihati gue. Hiks.

Nyampe di Pondok Saladah

Tenda kita di Pondok Saladah

Larangan camping
di Tegal Alun



Di Pondok Saladah ada warung!!!

     Kita bertiga sepakat hari ini mau nge-camp di puncak (Tegal Alun) biar bisa liat sunset dan sunrise, sambil istirahat, gue nanya-nanya dulu sama bapak-bapak yang punya warung, katanya dilarang nge-camp di puncak, terus kalo mau ke puncak harus ditemenin sama pemandu, soalnya kita belum tau betul jalur yang bakalan kita lewati, akhirnya dengan pertimbangan yang (lumayan) matang, kita bertiga sepakat buat ngebatalin camping di puncak dan ngga bakalan ke puncak, jadi kita langsung bangun tenda di Pondok Saladah ini, kita nyari tempat yang ada pohon-pohonnya gitu, dan ketemulah tempat yang pas buat kita, yaitu mojok di antara pepohonan, agak rame, karena beberapa rombongan pendaki lain juga ada yang bangun tenda di blok yang sama dengan kita bertiga. Tepat pukul 10.30 WIB tenda selesai dibangun, rencana selanjutnya kita naik lagi ke Hutan Mati setelah sholat dzuhur. Rasanya kita harus masak nih, laper banget, guys. Masak kita yang perdana di papandayan ini cuma masak nasi sama mi instan ditambah potongan sosis, sederhana, tapi itu jadi berasa nikmat banget kalo dimakan di gunung, mantabs! Mitosnya memang seperti itu. Makanan apapun yang kita makan saat di tenda bakalan terasa 10x lebih nikmat. BOOM!
     Waktu sudah masuk waktu dzuhur, langitpun terlihat masih cerah diiringi kabut yang masih menyelimuti udara, kita bertiga pergi ke musholla yang jaraknya ngga terlalu jauh dari tenda kita, musholla ini sangat sederhana, dibangun dari kayu dan bambu, beberapa sajadah tergeletak di lantai bambu, dan mukena tergantung di sebuah tali tambang, beberapa terlihat sangat usang, menandakan sering terpakai dan mungkin jarang ada para pendaki yang mencucinya. Kembali lagi gue siap buat setiap kemungkinan yang bakalan terjadi, air yang bakalan gue pake buat wudhu pasti dingin banget, air gunung akan tetap seperti itu, mungkin untuk selamanya akan seperti itu. Dingin. 10°.

Musholla bilik di Pondok Saladah

     Sholat dzuhur sudah selesai, ada perasaan yang kayaknya gundah gulana, langit keliatan mendung, gelap mencekam, menandakan ia ingin menangis, gerimis pun turun. Waduh, kayaknya bakal ada rencana yang batal lagi nih, setelah pertimbangan akhirnya kita nebatalin buat pergi ke hutan mati, dan kita mutusin hubungan persaudaraan, eh maksudnya memutuskan untuk bobo siang. Hanya berselang beberapa menit setelah tiduran didalem tenda, langit keliatan cerah lagi, yaudah berarti jadi nih pergi ke hutan mati, sebenernya kita ngga ada yang tau rute sampe ke sana, tapi dengan modal nekat dan ilmu navigasi yang cukup akurat (ini jangan ditiru ya), akhirnya kita ngambil jalan yang ada jejak sepatunya, keliatan meragukan sih, soalnya malah ngejauh gitu dari hutan mati, ditengah perjalanan langit kembali mendung, sedikit demi sedikit hujan turun, walaaah!, kalo kaya gini sih batal lagi, akhirnya kita milih buat turun aja, hujan makin gede, kita neduh di warung, ada beberapa rombongan pendaki dari Depok yang sepertinya lebih tua dari kita bertiga, disini kami saling berbagi cerita, ngobrol sana sini, ini itu, apalah apalah gitu deh. Basa-basi.

Cemilan penghibur hati yang tersakiti… *eaaa*

     Sebelum malem tiba, kita masak dulu buat makan, menu kali ini adalah mi ramen, kurang jepang apalagi coba? Ini ramen favorit gue, harganya cuma goceng kalo beli di minimarket, tiga bungkus ramen instan dimasak sekaligus, denger namanya aja gue udah ngebayangin rasanya yang aduhai. Bumbunya yang khas, rasanya yang pedas (sepedas ucapan dia) menambah kenikmatan yang tidak akan sanggup untuk disustakan. Okesip. Setelah makan, biasanya gue minum (*yaiyalah). Gak kerasa waktu maghrib udah dateng, kita bertiga langsung cabut ke musholla bilik di pojokan sana, sampai waktu ‘isya kami masih disana sembari ngobrol sana-sini ini-itu apalah-apalah, hingga akhirnya balik ke tenda sekitar pukul 20.00 WIB, udara masih dingin, gelap dengan langit yang terlihat agak mendung, sepertinya malam ini hujan akan turun. Sekitar pukul 9 malam kami sudah bersiap untuk tidur, sleeping bag yang kami bawa sudah terpasang, siap melaksanakan tugasnya sebagai penghangat tubuh malam ini.

Selasa, 23 Februari 2016

     Masih pagi sekali, sekitar pukul 1 dini hari, gue bangun gara-gara udara yang kayaknya makin dingin, dari luar terdengar suara air hujan, mungkin sejak tengah malam tadi hujan mulai turun. Sekitar pukul 5 pagi kami bergegas menuju musholla untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah, udara terasa sangat dingin hingga matahari terlihat menyapa pagi ini, terlihat ia bersembunyi dibalik awan abu-abu, kabut tipis terlihat samar-samar menyelimuti bukit. Rencana kita bertiga pagi ini yaitu “kejar tayang” buat pergi ke hutan mati, kami berangkat sekitar pukul 06.30 WIB, tanpa membawa tas kerir, kami berangkat melewati jalan yang becek dan semak-semak, perjalanan sampai TKP sekitar 30 menit. Saat memasuki kawasan hutan mati ini, kami langsung terkesimak, betapa indanya, padahal ini hutan bekas kebakaran beberapa tahun yang lalu, tapi apalah daya, memang terlihat indah dan kamipun berfoto ria disini selama 1 jam. Jika diibaratkan, mungkin seperti sebuah rumah yang kebekaran terus kita berfoto didepannya, gitu. Selang satu jam kami bergegas pergi ke camp kami di pondok saladah untuk bersiap-siap packing, karena kita ngejar waktu untuk pulang kerumah, target kami untuk sampai di rumah sebelum jam 12 malem ini, kalo bisa sih sebelum jam 5 sore (ngarep). Setelah packing selama kurang lebih setengah jam, kami udah siap buat ninggalin jejak di sepanjang perjalanan. Dalam perjalanan pulang seperti biasa, kami foto-foto sana-sini, kami juga bertemu dengan para pendaki lain yang sepertinya baru berangkat, beberapa kebetulan ada yang satu daerah dengan kami, Karangampel.


Di Hutan Mati guys… Climax moment! #BOOM!!!

   Sekitar jam 10 pagi kami sampai di basecamp,  sementara itu kami mampir di sebuah toilet di pojokan basecamp untuk mencuci muka, disaat yang sama beberapa tukang ojek menghampiri kami dan menawarkan untuk pulang dengan ojeknya itu, setelah diskusi beberapa detik kamipun meng-iya-kan tawarannya, sambil duduk diatas motor tukang ojek kami melewati warungnya mang Asep, kami melambaikan tangan pada mang Asep dan istrinya, ini perpisahan kami. Kami berhenti di pos pendaftaran dan menyerahkan laporan kepada panitia. Kami berhenti di pinggir jalan dekat sebuah pasar tradisional, dengan maksud untuk membeli oleh-oleh, temanku membeli dodol Garut, dengan ditemani mamang-mamang tukang ojek tadi hingga selesai. Sementara kami berdua menunggu di luar pasar, mobil elf tujuan kami sudah berhenti diseberang, mungkin sedang menunggu penumpang lain, kemudian kondektur elf tadi menghampiri kami dan menawarkan untuk pulang, kami berdua masih menunggu teman kami yang masih didalam pasar, selang beberapa waktu, dia dan mamang-mamang tukang ojek tadi keluar sambil membawa sebungkus kantong plastik hitam, dia sudah selesai belanja, kemudian kamipun langsung bergegas menuju mobil elf tadi, kami masuk dan duduk di mobil, kursi belakang sebelah kanan, kami sampai di tempat tujuan kami di sebuah persimpangan daerah Cileunyi sekitar pukul 13.00 WIB, kamipun naik mobil elf berikutnya tujuan Cirebon, sambil menunggu keberangkatan, kami keluar dari mobil, tas kerir kami tinggalkan didalam mobil, kami keluar untuk melaksanakan shoat dzuhur, sekaligus sholat ‘ashar unuk dijamak. Kami keluar masjid dan memakai sepatu gunung kami, dan keluar gerbang, saat itu mobil sudah melaju, hampir berangkat meninggalkan kami, dan kami masuk, kami duduk di depan-dibelakang supir, perjalanan pulang kali ini akan sangat lama, mungkin sekitar 5 jam. Diperjalanan kami disambut lalau lalang orang-orang dan kendaraan, sedikit macet memang, tapi kami sudah terbiasa akan hal ini. Garut, Bandung, Sumedang, Majalengka, Cirebon, itulah kota-kota yang telah kami lewati, dan sekarang kami akan melewatinya lagi. Seperti biasa, suasana canggung kalo berada didalam kendaraan umum.  Sepanjang perjalanan pemandangan pegunungan masih terlihat dari kejauhan, terlihat hijau mengintip dari balik jendela mobil. Ditengah perjalanan langit terlihat gelap abu-abu, hujan turun setelah mobil yang kami naiki memasuki wilayah perbatasan Cirebon, hujan turun begitu deras, Jalanan terlihat buram terlihat dari kaca mobil yang kita naiki, langit seperti akan runtuh, hati gue juga ikut runtuh, hiks. Suara adzan maghrib terdengar bergantian, kami mendarat dengan selamat diguyur tangisan langit di Kedawung, seskilas suasana saat itu mirip kayak di pinggiran kota Hanoi, Vietnam kala senja. Anyway… Gue belum pernah ke Vietnam. Perjalanan pulang berlanjut dengan elf jurusan Indramayu, didalem lumayan sepi, jadi dengan hati riang gembira gue berambisi untuk duduk selonjoran yang berakhir dengan ketiduran. Gilak! Enak banget! Bener kata orang jaman dulu, kalo tidur pas ngantuk itu warbiyazah nikmatnya. Sementara itu didalam mimpi… (*mimpi tidak aka diceritakan disini*). Gue terbangun setelah memasuki perbatasan Indramayu, Satu persatu penumpang hilang entah kemana, Yogi temen gue bersiap untuk turun, sekarang didalam mobil tinggal kami berdua ditambah penumpang di kursi depan dan mamang sopir, kami akhirnya sampai di Karangampel menjelang waktu ‘isya, setelah mampir sebentar di minimarket untuk membeli makanan, kamipun langsung pulang ke rumah masing-masing dan meninggalkan jejak dan tetesan keringat dengan koreografi yang sudah kami latih beberapa hari ini. Kucing-kucing dirumah menyambut kedatangan gue dengan “meongan” yang heboh, seakan senang tak tertahankan melihat majikannya pulang dengan selamat.
(/kay/end)

By the way... Videonya ada dibawah ini cuy...